Ole-ole dari Istanbul (versi Ramadhan)

Aku ingin hadiahkan sebuah ole-ole dari Istanbul untuk kalian. Ianya adalah sebuah kisah yang telah membangunkan keimanan dalam benak hatiku di kota itu. Aku harap ianya mampu melakukan hal yang sama untuk kalian.

Tersebut sebuah kisah tentang seorang pemuda. Dia sangat mencintai seorang gadis di desanya. Setiap malam dia akan memanjat tangga untuk mampir ke kamar gadis itu demi mengikut telunjuk nafsunya. Dia leka dan tidak sedar akan dosa-dosa yang dilakukannya selama ini sehinggalah tiba pada suatu malam.

Malam itu dia memanjat lagi tangga untuk ke kamar gadis tadi, tiba-tiba dia mendengar alunan ayat suci Al-Quran dari bilik sebelah. Terdengar olehnya akan sebuah ayat yang benar-benar mengetuk pintu hatinya…

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”

Pemuda tadi tersentak! Dia menjadi kaku seketika lantas dalam keadaan ketakutan yang amat sangat, dia pun menuruni tangga itu dan berlari sekuat hatinya. Dia terus berlari tanpa ada arah yang pasti untuk dituju, sehinggalah akhirnya dia terhenti di sebuah pondok usang. Lalu dia pun masuk dan berehat sebentar di dalam pondok itu.

Pemuda itu menangis. Sudah begitu lama dia bergelumang dengan dosa dan maksiat itu sehinggalah akhirnya ayat Allah datang menyapa hatinya yang selama ini lalai. Sedang dia duduk di situ, lalu di situ satu rombongan kafilah yang ingin menjalankan urus niaga di kota yang berdekatan. Tiba di pondok itu, pemuda itu terdengar orang-orang yang berada dalam kafilah itu sedang bercerita tentang dirinya. Mereka mengingatkan ahli rombongan itu supaya berjaga-jaga dengan diri pemuda itu kerana dia sering mengganggu mereka dan hasil jualan mereka.

Pemuda itu lantas tenggelam dalam tangisannya yang panjang. Dia berdoa kepada Allah swt. Katanya;

“Ya Allah, selama ini aku telah bergelumang dengan dosa-dosa kerana mengikuti kehendak nafsuku. Kemudian Engkau ingatkan diriku dengan ayat-ayat suci Mu. Ya Allah, kemudian Engkau datangkan pula kepadaku rombongan kafilah ini untuk mengingatkan aku betapa bencinya orang ramai terhadap sikapku selama ini. Ya Allah, aku ini buruk pada pandangan-Mu dan buruk juga pada pandangan manusia. Hinanya diriku ini Ya Allah”

Pemuda itu terus berada dalam tangisannya. Akhirnya dia telah berjanji kepada dirinya bahawa itu adalah saat dan ketika di mana dia perlu berubah! Ya, saat dan ketika itu juga. Dia akan menyahut hidayah yang datang menerpa dirinya itu. Dia yakin betapa banyak dan besar pun dosanya selama ini, Allah tidak akan pernah mensia-siakan hamba-hamba Nya yang ingin bertaubat dan berubah. Dia ingin tinggalkan semua kejahatannya selama ini.

Lalu pemuda ini berazam untuk mengembara dan mempelajari seberapa banyak ilmu agama. Dia merantau dari sebuah daerah ke sebuah daerah yang lain. Dari satu negeri ke satu negeri yang lain. Semuanya kerana ingin mendalami ilmu agama yang mampu mendekatkan dirinya kepada Maha Pencipta. Dia lakukan semua itu atas nama sebuah taubat yang murni. Taubat yang telah mengubah dirinya dari sehina-hina manusia kepada hamba yang begitu dekat dengan Allah.

Tahukah kalian siapa pemuda ini? Dia ialah Fudhail bin Iyadh, seorang ulama’ yang muktabar! Seorang ulama’ yang telah menyirami jutaan manusia dengan ilmu-ilmunya yang mengesan di lubuk hati. Ilmu yang membugar dan membangkitkan keimanan dalam diri manusia. Begitu contoh langsung yang Allah tunjukkan kepada kita wahai teman. Itulah kesannya orang yang bertaubat. Tidak kira betapa jahat dan buruk pun kita selama ini pada pandangan Allah dan manusia di sekeliling, di sana masih ada harapan untuk kita berubah dan tidak ada istilah terlambat atau “takde peluang” untuk kita berubah.

Inilah ole-ole yang dapat dihadiahkan dari bumi Istanbul. Sedikit mutiara ilmu yang mudah-mudahan dapat membawa kita mencari jalan pulang. Ingatlah, kita ini asalnya dari Syurga, singgah ke dunia sekadar mencari bekal. Ingatlah kita ini berada dalam perjalanan pulang ke tempat asal masing-masing. Mudah-mudahan dipermudahkan jalan itu untuk kita. Wallahu alam…

Selamat menyambut Ramadhan Mubarak! Semoga di akhir Ramadhan ini kita berubah 180 darjah, berubah dari buruk kepada baik dan dari baik kepada lebih baik dan lebih baik…Wassalam. =)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: